Kamis, 06 Desember 2018

ARGON PALU YANG MAKIN FENOMENAL DAN MENDUNIA


(29 Nopember 2018)
Oleh Mochtar Marhum
Tepat dua bulan lalu tragedi Gempa Dasyat telah berlalu. Perasaan duka yang dalam masih menyelimuti masyarakat kota Palu.
Ada banyak kisa sedih dan tragedi kemanusian yang telah diartikulasikan dan diekspresikan liwat berbagai media. Kesedihan dan duka yang dalam akhirnya diupayakan untuk dihibur dan dihalau melalui jargon-jargon pemberi semangat untuk bangkit dan berbenah diri dari keterpurukan pasca bencana super dasyat tersebut.
Saatnya masyarakat tidak bole selalu ditakut-takuti dengan berbagai berita hoax dan kabar palsu seperti akan terulangnya bencana dasyat.
Upaya Trauma healing untuk menyembuhkan luka duka masyarakat Palu yang merasa Pilu karena telah terjadinya Gempa, Tsunami dan Likuifaksi yang telah mengorbankan ribuan nyawa dan triliunan harta benda.
Cerita dan kisah yang jenaka dan menghibur perlu pula dinarasikan dan diviralkan untuk mengobati perasaan Pilu warga Palu dan sekitarnya.
Saya ingat dulu pernah ada seorang kawan waktu pertama kali berkunjung ke Jakarta sekitar tahun 1990an, dia sempat dikerjain teman-temanya di sana dengan pertanyaan yang ambigius dan membingungkannya.
Ada yang sempat nanya begini, "Ada Gubernur diPalu?"
Kawanku Jawab, "ada bang"
Pertanyaannya berlanjut, "Ada Profesor diPalu ?"
Dengan serius kawan saya menjawab dan dengan nada yang agak tinggi dan sedikit bingung, "Tentu ada bang"
Seketika itu juga kawan-kawannya tertawa......hehehehehehehe...ternyata mereka cuman bercanda...
Pasca Gempa Dasyat di Kota Palu dan Sekitarnya, Muncul Jargon Sosial Yg Menggunakan Kata PALU antara Lain Seperti
PALUKUAT
PALUBANGKIT
Lalu ada teman yang menanggapi. Dia bilang, "Waktu terjadi Gempa dan Tsunami di Aceh, tokoh masyarakat Aceh seperti Surya Palo dan sahabat-sahabatnya asal Aceh sepakat menggunakan Jargon yang menyentuh perasaan sympati dan empati masyarakat luas di Indonesia dan dunia yaitu "ACEH MENANGIS".
Dan Gempa dan Gempa dan Tsunami di Aceh masuk kategori Bencana Nasional sehingga jauh lebih banyak orang yang memberikan sympati dan empatinya.
Sebaliknya Jargon Palu Bangkit dan Palu Kuat, oleh sebagian teman-teman mengatakan bahwa Jargon tersebut masih kurang efektif untuk memberikan efek sympati dan empaty masyarakat luas baik secara nasional maupun internasional.
Jauh sebelum terjadi Gempa Dasyat tersebut, sudah ada kata-kata yang menggunakan kata Palu dan sering digunakan oleh warga masyarakat di daratan pulau

MINIMALIS KORBAN BENCANA DI ERA MILENIAL


(Palu, 3 Desember 2018)
Oleh Mochtar Marhum
Kemarin ada beberapa status di Medsos disertai gambar Gempa Magnitudo 7,0 Skala Richter menghantam wilayah Alaska, salah satu negara bagian Amerika Serikat. Meme di Medsos oleh orang Palu dibumbui narasi jenaka "Om Koro Lagi Jalan-jalan ke Amerika" (Om Koro = Sesar Aktif PaluKoro).
Pagi ini berita Internasional TV iNews melaporkan Gempa berskala 7,4 Skala Richter tidak menimbulkan korban jiwa. Mungkin bagi orang awam banyak yang heran kenapa gempa yang bermagnitudo sangat signifikan itu tidak menimbulkan korban jiwa?
        Padahal kalau dilihat berita dan gambar yang viral, jelas gambarnya sangat mencekam dan cukup memprihatinkan. Yang mana digambarkan pula banyak jalan yang terbela-bela dan bahkan ada yang runtuh.
        Yang jadi pertanyaan menarik, apakah tidak terdapat korban jiwa karena gempa yang terjadi di Alaska belum lama ini tidak menimbulkan Tsunami dan juga tidak ada fenomena likuefaksi di wilayah terdampak ? Atau mungkin karena penerapan kebijakan Mitigasi Bencana dan perencanaan keadaan darurat (Contigency Plan) berhasil diterapkan.
      Mungkin juga perlu diketahui bahwa telah banyak negara yang memiliki peta rawan bencana dan peta rawan bencana tersebut selalu diupdate dan disosialisasi secara luas kepada masyarakat.
      Gempa dan Tsunami pada umumnya telah dikenal luas masyarakat dunia. Dan upaya mitigasi, pendidikan tanggap bencana dan Rencana Contigensi (Contigency Plan) pada umunya telah dikenal luas. Standar Operating Procedure (SOP) sudah banyak yang faham. Misal ketika terjadi gempa, masyarakat harus mengamankan diri seperti harus berlari ke tanah lapang yang luas dan jauh dari ancaman reruntuhan bangunan atau pohon tumbang. Juga kalau lagi berada di dalam gedung harus berlindung di bawa meja atau mencari sudut yang aman yang dikenal dengan istilah teknis Segi Tiga Kehidupan (Triangle of Life). Sedangkan jika ada gempa dan terjadi Tsunami, masyarakat diminta menjauhi bibir pantai dan naik ke tempat yang lebih tinggi atau naik ke tempat yang aman dan posisinya tentu jauh lebih tinggi.
      Namun, semua tips dan teori mitigasi bencana dan pendidikan tanggap bencana ini sama sekali tidak berlaku untuk fenomena likuifaksi karena upaya mitigasi ini justru mungkin akan lebih fatal akibatnya karena semua upaya mungkin akan dipatahkan oleh gulungan lumpur likuifaksi karena fenomena ini juga menimbulkan tanah terbelah dan menutup kembali, tanah amblas dan menyedot semua bangunan dan semuanya isinya dan tanah bak diblender dan semua yang ada didalamnya bisa remuk.
      Fenomena Likuefaksi juga seperti yang pernah diberitakan oleh sejumlah media mainstream, pernah juga terjadi di New Zeland, Korea, Jepang dan Amerika. Namun, menarik untuk diamati dan harus bisa menjadi inspirasi untuk negara yang wilayahnya terdapat rawan bencana.
       Bencana Likuefaksi di negara-negara tersebut tidak pernah atau jarang menelan korban jiwa karena tanah likuefaksi (Liquifaction Soils) telah dideteksi lebih awal melalui suatu kajian Geoteknologi dan melibatkan kajian disiplin ilmu terkait. Peta rawan bencana dibuat dan regulasi atau semacam PERDA diterapkan dengan sangat ketat yang melarang adanya pemukiman penduduk di wilayah rawan bencana.
      Hanya melalui penerapan kebijakan Mitigasi bencana dan contigency plan yang lebih efektif bisa menyelamat ribuan bahkan jutaan umat manusia.

Minggu, 04 November 2018

REFLEKSI SEBULAN PASCA GEMPA DASYAT DI WILAYAH PALU, SIGI DAN DONGGALA


Palu, 28 Oktober 2018
Oleh Mochtar Marhum
Hari ini tanggal 28 Oktober genap sebulan peringatan terjadinya bencana maha dasyat yang melululantahkan wilayah Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA). Gempa bumi bermagnitudo 7.4 Skala Richter telah mengorbankan ribuan jiwa orang-orang yang kita cintai. Miliaran bahkan mungkin triliunan harta benda warga masyarakat PASIGALA hancur dan mungkin juga hilang hanya dalam hitungan menit, jam dan hari.
Bencana yang terjadi sebulan yang lalu sangat unik dan mungkin hampir tidak pernah ada kesamaan dengan bencana yang terjadi di wilayah lain bahkan di seluruh dunia. Gempa yang terjadi di wilayah PASIGALA itu bisa dianalogikan seperti penyakit Diabetes Melitus (DM) karena juga menimbulkan komplikasi.
Akibat gempa yang super dasyat itu menimbulkan Tsunami, Fenomena Likuefaksi dan Kebakaran rumah masyarakat di Kelurahan Petobo dan Kelurahan Balaroa, wilayah yang terdampak likuefaksi.
DAMPAK DARI GEMPA
Bencana alam ini juga diikuti dengan bencana sosial karena terdapat kasus penjarahan besar-besaran pada pusat pertokoan dan rumah-rumah masyarakat yang ditinggalkan pemiliknya karena mengungsi.
Di tengah suasana duka, ada kisah unik dan juga joke yang viral di media sosial. Keunikan dari gempa di Sulawesi Tengah. Antara lain ada rumah masyarakat yang terdampak likuefaksi yang amblas dan tertimbun lumpur, ada yang teraduk-aduk, tergulung dan seperti diblender kemudian ada yang muncul lagi ke permukaan bumi. Dan kemudian ada bangunan yang terseret dan pindah beberapa ratus meter dari tempat semula.
Tidak hanya bangunan berpindah tapi juga tower BTS dan banyak tanaman yang berpindah tempat termasuk pohon kelapa, pohon pisang dan tanaman jagung.
Bahkan viral anekdot yang menyebutkan bahwa beberapa onderdil mobil dan onderdil motor berpindah dari pantai yang terdampak Tsunami pindah ke grup FB Info Jual Beli Kota Palu.
Juga beberapa merek beras yang sering dijual di Swalayan Alfa Midi ditemukan berpindah ke pasar tradisional.
Yang lebih unik lagi pada umumnya dapur masyarakat berpindah dari belakang rumah ke depan rumah.
Juga akibat menyebarnya berita hoax bahwa akan ada lagi gempa yang lebih dasyat dan menyebarnya kabar palsu bahwa di banyak wilayah kota Palu telah terdapat lumpur likuefaksi sehingga semakin banyak masyarakat yang takut dan melakukan eksodus besar-besaran mengungsi keluar dari wilayah PASIGALA.
Sebaliknya dalam waktu hampir bersamaan patut diapresiasi dan diacungi jempol karena bersamaan ada ribuan relawan dan armada bantuan yang masuk ke wilayah terdampak untuk membantu meringankan beban dan duka masyarakat.
Sampai batas akhir masa tanggap darurat laporan resmi pemerintah mencatat korban meninggal 2086 jiwa, korban luka-luka 4.438, korban hilang 1075 orang, korban yang mengungsi 206.494 orang dan rumah atau bangunan lainnya yang terdampak 68.451 unit (Koran Kailipost, 27/10/2018).
Namun, dari laporan masyarakat terdampak diduga korban jiwa dan luka-luka masih jauh lebih banyak. Misalnya di tiga wilayah terdampak likuefaksi korban jiwa yang tertimbun lumpur dan belum sempat dievakuasi masih cukup banyak.
FAKTA DAN REALITA
Kota Welington di New Zealand berada di jalur Sesar Welington dan demikian juga Kota Los Angles di Negara Bagian Kalifornia Amerika Serikat berada tepat di jalur Sesar San Andreas.
Namun, masyarakat di kedua kota ini tidak menganggap Sesar Welington dan Sesar San Andreas sebagai hantu yang menakutkan dan harus ditakuti. Bahkan sejak dulu sering timbulnya gempa akibat aktivitas sesar tapi tidak pernah muncul ide dari pemerintah dan masyarakat untuk menghindari dan memindahkan kota Los Angles dan Kota Kalifornia ke tempat lain. Kedua kota ini justru terus dibangun dan dikembangkan. Tinggal diminta bagaimana masyarakat menyikapi dan mengantisipasi potensi siklus gempa jika kembali terjadi.
Indonesia berada di cekungan jalur gempa, cincin api (Ring of Fire) dikelilingi oleh daerah tapal kuda sepanjang 40.000 km dan terdapat tiga lempeng raksasa yaitu sebelah utara ada lempeng Eurosia, sebelah selatan ada lempeng Indo-Australia dan sebelah timur ada Lempeng Pasifik. Wilayah ini sering mengalami gempa tektonik dan gempa vulkanik. Menurut BMKG, dari 90 % gempa bumi dan 80% Gempa terbesar di dunia terjadi di wilayah cincin api.
Gempa bermagnitudo 7,4 di Donggala dan getarannya berdampak signifikan di wilayah Palu dan Sigi disebabkan oleh pergerakan Sesar Palu-Koro. Pergerakannya adalah sesar mendatar (slike-slip). Artinya, antara lempeng bumi satu dan lempeng bumi lain bergerak sejajar (Detiknews,28/09/2018).
Banyak pakar Geologi dunia tidak memperkirakan akan terjadi Tsunami pasca terjadinya gempa tersebut karena menurut kajian kegempaan dan tsunami, pergerakan sesar secara horizontal tidak lazim menimbulkan tsunami.
Umumnya, tsunami bisa terjadi ketika gempa berada di zona subduksi atau pertemuan dua lempeng, episentrum pada kedalaman kurang dari 70 kilometer, dan adanya gerakan sesar vertikal (Kompas, 01/08/2018).
BNPB sebut empat Likuefaksi terjadi di wilayah terdampak PASIGALA yaitu Keluarahan Balaroa Kecamatan Palu Barat, Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan, Desa Jono Oge dan Desa Sibalaya Kabupaten Sigi (Tempo, 01/10/2018). Dua kelurahan yang terdampak bencana Likuefaksi memiliki populasi pemukiman penduduk yang padat dan banyak menelan korban jiwa dan harta benda.
MITIGASI BENCANA DAN PENDIDIKAN TANGGAP BENCANA
Mengurangi resiko yang ditimbulkan akibat terjadinya bencana merupakan tanggung jawab bersama tidak hanya pihak pemerintah tapi juga seluruh pihak stakeholders terkait.
Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang cara menyelamatkan diri jika terjadi gempa dan tsunami mutlak dilakukan apalagi wilayah PASIGALA berada diwilayah yang diliwati Sesar Palu Koro. Sehingga merupakan suatu kenicayaan bahwa bencana sewaktu-waktu bisa terjadi tinggal bagaiman menyikapinya.
Namun, untuk fenomena Liekufaksi mungkin belum ada satupun bentuk edukasi yang bisa diterapkan untuk mengurasngi jumlah resiko korban yang ditimbulkan oleh fenomena likuefaksi.
Kebijakan mitigasi bencana dan manajemen bencana serta penerapan PERDA Tata Ruang yang tepat mungkin lebih efektif. Dan demikian juga mutlak dibutuhkan peta rawan bencana dan peta wilayah potensi tanah likuefaksi. Wilayah yang terindikasi masuk wilayah yang mengandung tanah Liekufaksi tidak boleh dijadikan tempat pemukiman penduduk.
Sebaiknya sekolah memasukkan mata pelajaran tanggap bencana pada kurikulum muatan lokal sehingga anak-anak di wilayah yang rawan bencana telah siap dan tanggap jika terjadi bencana dan bisa membantu menyelematkan diri mereka.
Mungkin perlu belajar dari Jepang cara menghadapi bencana seperti Gempa dan Tsunami. Jepang adapah negara yang paling sering dilanda bencana Gempa dan Tsunami. Terakhir kali Jepang dilanda gempa dan tsunami pada 2011 silam. Gempa berkekuatan 9,0 magnitudo itu menimbulkan tsunami yang menghancurkan kawasan pesisir timur laut negara itu. Sekitar 19.000 orang tewas dan hilang akibat peristiwa tersebut, serta menyebabkan kebocoran pembangkit tenaga nuklir Fukushima Daiichi (Kompas, 02/10/2018).
Jepang salah satu negara yang paling sering terjadi bencana gempa dan tsunami. Namun, negara ini telah lama berhasil menerapkan kurikulum pendidikan tanggap bencana (Disaster Education). Anak-anak sekolah sudah terbiasa dan tanggap pelajaran dan pelatihan tanggap bencana. Setiap bulan diadakan simulasi tanggap bencana di sekolah, kampus, instansi pemerintah dan swasta.
Semakin banyak jumlah korban yang ditimbulkan akibat bencana yang terjadi merupakan indikator kegagalan kebijakan mitigasi bencana, manajemen bencana dan pendidikan tanggap bencana.
Menyangkut manajemen bencana dalam keadaan darurat emerjensi sebaiknya SOP (Standard Operating Procedure) yang diterapkan tidak kaku misalnya penyaluran bantuan bencana tidak perlu harus menunjukkan KTP atau Kartu keluarga karena kemungkinan banyak korban Tsunami dan Likuefaksi telah kehilangan dokumen tersebut. Hal ini pernah dikeluhkan oleh beberapa warga yang terdampak bencana ketika akan mengurus penyaluran bencana, mereka merasa dipersulit dengan birokrasi dan manajemen kebencanaan yang kaku.
PERSPEKTIF TEOLOGI, KONTEKS TEKNOLOGI DAN GEOLOGI
Bencana seperti Gempa dan Tsunami dalam Islam bisa dilihat dalam AlQuran Surah Al Zalzalah Ayat 1 dan 2 secara jelas disebutkan "Apabila bumi diguncangkan dengan dasyat dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya". Dan terkait dengan Tsunami dapat dilihat pada AlQuran Surah Al Infithar ayat 3 "Apabila Air Laut Menjadi Meluap" dan Surah At Takwiir ayat 6 "Apabila Laut Dipanaskan". Allah mengisahkan peristiwa Likuefaksi dalam Surah Al-Qashshash ayat 81
"Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri."
Pasca terjadinya bencana maha dasyat, masyarakat menjadi sadar dan lebih taat. Masjid dan rumah-rumah ibadah semakin ramai. Umat yang terdampak mungkin semakin sadar bahwa bencana yang barusan melululantahkan wilayah PASIGALA tidak bisa hanya dilihat dari perspektif Geologi dan Teknologi tapi aspek Teologi (Agama) tentu juga harus dijadikan sebagai referensi.
Sampai detik ini belum ada satupun teknologi dan ilmu kegempaan termasuk ilmu Geofisika Maupun Ilmu Geologi yang mampu menentukan secara akurat kapan akan terjadinya siklus gempa yang bermagnitudo signifikan.
Expedisi Palu Koro yang dilakukan oleh tim Peneliti dari LIPI dan BPPT dan juga hasil penelitian disertasi Doktor (S3) Mudrid Daryono telah cukup banyak melaporkan temuan aktivitas sesar Palu Koro dan Sejarah siklus gempa dan Tsunami di Wilayah PASIGALA sejak tahun 1907 sampai tahun 1968. Dan dari hasil expedisi teranyer temuan pakar Geologi tersebut telah dipublikasikan di Koran Kompas tahun 2017 dan sebaiknya menjadi early warning terkait potensi Gempa Besar yang akan terjadi di Sulawesi Tengah (PASIGALA) akibat aktivitas Sesar Palu Koro dan Siklus 100 tahunan Gempa dan Tsunami di wilayah tersebut.
Selanjutnya sejumlah pakar kegempaan dunia merasa heran bisa terjadi Tsunami dengan ketinggian mencapai lebih dari 10 meter dan membunuh banyak orang yang berada di wilayah pesisir kota Palu dan wilayah kabupaten Donggala.
Menurut analisa pakar Geologi dan Tsunami, Sesar geser atau sesar horisontal kecil kemungkinan menimbulkan Tsunami. Walaupun pada akhirnya sejumlah pakar berspekukasi bahwa Tsunami yang terjadi pada tanggal 28 September yang lalu merupakan peristiwa longsoran sedimen di dasar laut yang ditimbulkan oleh gempa bermagnitudo tinggi (Tribun News 29/09/2018).
Ajal dan bencana merupakan suatu keniscayaan yang bisa saja terjadi di mana saja dan kapan saja jika dikehendaki oleh Allah Swt sebagai maha pencipta.
Bencana dan fenomena alam yang di luar nalar ilmuwan Geologi mungkin bisa terlihat pada tragedi bencana Gempa, Tsunami dan Likuefaksi di wilayah PASIGALA.
Sejumlah saksi yang selamat menceritakan pengalaman yang menurut mereka teknologi canggih tidak akan mampu mengatasi bencana dasyat dan kompleks tersebut dan tentu penjelasan teologi (agama) mutlak dibutuhkan. Dan ini berarti bahwa ada suatu kekuatan yang bisa menggerakkan sehingga terjadinya bencana melalui fenomena alam yang baru saja kita saksikan di wilayah Palu, Sigi dan Donggala.
Tepat sebulan pasca bencana, harus dijadikan refleksi akan pentingnya bersahabat dengan Alam dan percaya dengan Allah sebagai pencipta Alam ini.
Jadikan setiap bencana bukan sebagai hantu yang menakutkan tapi sebagai pelajaran dan teguran agar kita tidak lupa diri dan apalagi lupa dengan sang Pencipta Alam.
PENUTUP
Banyak negara yang pernah hancur dan terpuruk akibat dilululantahkan oleh bencana tapi bisa bangkit kembali dan menjadi maju karena mereka tidak menganggap bencana itu sebagai hantu yang harus dihindari.
Namun, mereka mampu menyikapi bencana dengan bijak dan bersama-sama bergandengan tangan dan mau bangkit kembali membangun daerahnya tanpa keluh kesah yang membebani mereka.
Penulis Merupakan Kolumnis dan Akademisi UNTAD Palu

Rabu, 24 Oktober 2018

GEMPA MENGUJI KETAHANAN BANGUNAN DAN SEKALIGUS MENGUJI KEIMANAN SESEORANG


(Palu, 19 Oktober 2018)
Oleh Mochtar Marhum
Gempa Bermagnitudo 7,4 Skala Richter yang memicu terjadinya Tsunami dan fenomena Likuefaksi bisa menjadi ujian tidak hanya ujian bagi Ketahanan Iman tapi juga sekaligus telah menguji Ketahanan fisik manusia dan ketahanan fisik sejumlah bangunan di wilayah terdampak paling parah.
KONTEKS GEOLOGI DAN PERSPEKTIF TEOLOGI
Bencana Alam Gempa, Tsunami dan Fenomena Likuefaksi bisa dilihat dari Konteks Fenomena Geologi (Ilmu pengetahuan) dan juga dari Perspektif Teologi (Agama) serta tentu menurut keyakinan agama kita masing-masing.
Pendekatan sains atau ilmu pengetahuan didasarkan pada sesuatu yang berbau empiris dan evidence based melalui riset para pakar Saintist Geologi di lapangan.
Sedangkan dari perspektif agama bersifat otoritas dan dogmatis agama dengan referensi atau rujukan pada AlQuran dan Hadist untuk umat Islam dan bagi umat-umat lainnya berdasarkan kitab-kitab suci mereka. Pedekatan sains juga mengacu pada dalil Aqli dan pendekatan agama tentu memgacu pada dalil naqli.
Pendekatan agama meyakini bahwa bencana alam super dasyat terjadi dan menewaskan manusia dalam jumlah yang cukup signifikan dan mampu merusak sejumlah infrastruktur vital merupakan ujian bagi umat yang beriman atau mungkin juga merupakan azab atau teguran bagi umat yang lupa diri.
Namun, dari perspektif ilmu pengetahun, terjadinya bencana alam seperti gempa, tsunami dan bahkan fenomena liqefaksi merupakan suatu fenomena alam yang mungkin juga bisa dianggap lazim terjadi di planet bumi.
Dan semuanya juga bisa ditimbulkan oleh faktor sebab akibat (Cause and Effect). Dan mungkin juga hampir sama terjadi peristiwa alam lainnya seperti terjadinya Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan, semua adalah kejadian alam.
Gempa dasyat belum lama ini telah menewaskan ribuan penduduk yang bermukim di wilayah Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA) yang kebetulan wilayah tersebut berada di atas jalur Sesar Palu Koro yang membujur di bawa kota Palu sampai ke teluk Bone.
Sesar Palu Koro merupakan salah satu sesar paling aktif di dunia. Bahkan beberapa tahun sebelumnya sejumlah temuan riset (Research Finding) oleh sejumlah pakar kegempaan telah memberikan warning akan kemungkinan terjadinya gempa besar di pulau Sulawesi.
Dari perpsektif Geologi menurut BNPB, dari 90 % gempa bumi tektonik dan vulkanik yang terjadi di seluruh dunia, terdapat 80% gempa bumi terbesar di dunia terjadi di wilayah jalur gempa atau jalur Cincin Api (Ring of Fire). Indonesia berada di cekungan atau jalur tapal kuda cincin api dan tepat berada di dua lempeng benua dan lempeng pasifik.
Dan potensi bertubrukan lempeng bumi yang memicu gempa di wilayah Indonesia karena posisi Indonesia berada di antara jalur Cincin Api yaitu dari sebelah Utara ada Lempeng Indo-Eurosia, dari sebelah selatan ada Lempeng Indo-Australia dan Sebelah Timur ada Lempeng Pasifik.
UJIAN KETAHANAN IMAN DAN UJIAN KETAHANAN BANGUNAN
Looting dalam Bahasa Inggris atau penjarahan dalam Bahasa Indonesia merupakan pemandangan yang lazim bisa terlihat di wilayah yang mengalami keadaan darurat atau emergency misalnya akibat terjadinya konflik peperangan. Di wilayah tersebut tidak berlaku Law and Order dan dikategorikan sebagai wilayah yang dilanda perang (War Zone) atau wilayah yang dilanda konflik kekerasan. Di wilayah tersebut aksi penjarahan atau looting sudah biasa terjadi.
Namun, pemandangan looting atau penjarahan juga ternyata bisa terjadi di daerah yang sedang tertimpa musibah seperti bencana alam yang belum lama terjadi di kota Palu.
Mungkin dapat dimengerti dan dimaklumi kenapa bisa terjadi penjarahan ketika pasca gempa.
Mungkin karena akibat kepanikan akan ancaman kelangkaan bahan pangan termasuk air bersih dan obat-obatan pasca bencana dasyat dan kemudian diragukan bala bantuan dari luar akan lambat masuk karena infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan laut dan pelabuhan udara rusak sehingga diragukan bala bantuan untuk masyarakat di wilayah terdampak akan terhambat masuk dalam waktu dekat.
Pasca Gempa terlihat tidak hanya mayat dan orang-orang yang terluka dan cedera akibat efek dasyat dari bencana alam tersebut tapi juga terlihat sejumlah bangunan yang roboh, ada pula yang retak-retak dan bahkan ada pula yang amblas ke dalam tanah akibat fenomena likuefaksi seperti yang terjadi di Kelurahan Balaroa Palu Barat, Petobo di Palu Selatan dan Desa Jono Oge Kabupaten Sigi.
Di samping itu terlihat juga baik secara langsung maupun hanya liwat media sosial pemandangan aneh dan sangat memprihatinkan yaitu prilaku anomaly dan sesat mereka yang terlibat melakukan penjarahan tidak hanya di gray tempat makanan dan minuman yang dipajang tapi juga ada produk jarahan yang bukan berbentuk makanan dan minuman termasuk barang elektronik dan spare-parts kendaraan.
Dilaporkan juga bahwa ternyata aksi penjarahan tidak hanya terjadi sejumlah toko dan pusat perdagangan tapi juga ada sejumlah rumah yang hancur dan rusak bangunannya sehingga rumah tersebut ditinggalkan pemiliknya mengungsi ke tempat yang lebih aman juga menjadi objek penjarahan.
Pasca gempa ternyata banyak godaan yang ditimbulkan dan bisa melunturkan iman seseorang untuk melakukan perbuatan melawan hukum dan merupakan tindakan sesat dan tidak terpuji.
Saya sempat membaca status beberapa orang teman di media sosial yang curhat karena barang-barangnya ludes dijarah orang ketika itu rumah mereka ditinggalkan untuk mengungsi ke tempat lain. Rupanya para penjarah mencari kesempatan di tengah suasana tragedi dan duka yang menyelimuti kota ini.
Gempa juga telah melululantahkan sejumlah bangunan besar dan bertingkat seperti Hotel-hotel berbintang, bangunan kampus, gedung sekolah, gedung perkantoran, pusat pertokoan, jembatan, sejumlah rumah ibadah dan rumah sakit serta rumah makan serta sejumlah gedung lembaga keuangan. Bahkan ada cukup banyak bangunan yang belum lama diresmikan dan ditempati juga turut retak dan bahkan ada yang hancur rata dengan tanah.
Di daerah yang masuk wilayah rawan fenomen likuefaksi mungkin tentu dimaklumi kalau gedung atau bangunan hampir semuanya hancur dan amblas karena akibat fenomena likuefaksi di mana daya topang tanah hilang dan akibat jenuh tanah berubah jadi lumpur dan berair serta karena berada pada posisi kemiringan atau elevasi sehingga tanah bergerak menyeret semua bangunan yang ada di atas saling bertubrukan tak terkecuali bangunan yang kokoh dan kuat sehingga ada bangunan yang muncul dan ada yang tenggelam ditelan bumi.
Gempa dengan kekuatan 7.4 skala richter mampu merusak dan melululantahkan bangunan yang kuat tapi maksudnya yang berada di luar daerah rawan likuefaksi. Ternyata ada juga banyak bangunan yang tahan Gempa dan Tsunami tapi tentu tidak tahan dengan fenomena likuefaksi yang menenggelamkan dan memblender sejumlah bangunan.
PALU BANGKIT PASCA GEMPA
Aktivitas Ekonomi dan Bisnis di Kota Palu telah mulai merangkak dan bangkit kembali.
Pasar-pasar tradisional telah buka, sejumlah pertokoan juga telah buka bahkan Matahari dan Hypermart yang bangunannya yang terletak di bibir pantai dan sempat diterjang Tsunami saat ini telah dibuka dan mulai banyak pengunjung yang berbelanja di sana.
Demikian juga pusat perdagangan lainnya seperti Carefour, PMU dan Swalayan Hero telah dibuka pula.
Saatnya optimis dan berharap semoga Palu bangkit dan kota ini akan menjadi lebih baik dari semula.
Sejak minggu kedua pasca gempa gairah dan semangat mesyarakat yang terdampak mulai bangkit kembali untuk menyongsong dan menggapai masa depan Kota Palu dan wilayah sekitarnya menjadi yang terbaik.
Alhamdulillah, hanya dalam hitungan hari pasca gempa, infrastruktur vital seperti air bersih PDAM dan Listrik PLN telah berfungsi kembali dengan baik. Jaringan telekomunikasi dan internet juga sudah bagus. Demikian juga siaran televisi juga sudah bisa diakses
Pagi ini ketika akan menuju ke Palu Grand Mall, saya melihat sepanduk dengan tulisan yang cukup menggugah perasaan dan menginspirasi setiap orang.
Sepanduk itu dipajang tepat di depan salah satu kantor yang pernah jadi korban terjangan tsunami dasyat. Dan ketika itu bahkan banyak pula ditemukan mayat korban tsunami dan sejumlah onggokan bangkai kendaraan terlihat sempat terdampar di sekitarnya.
Di depan kantor itu terlihat tulisan sederhana tapi sangat inspiratif "Jangan terlalu lama berduka, ayoo Palu Bangkit Kembali".
Dan akhirnya saya juga menyadari bahwa ternyata bencana gempa bumi itu merupakan suatu ujian yang nyata-nyata tidak hanya menguji ketahanan bangunan tapi juga menguji keimanan seseorang.
Penulis: Kolumnis Free-lance dan Akademisi UNTAD

TRAUMA HEALING, DISEMINASI BENCANA DAN KEHENDAK ALLAH


(Palu, 21 Oktober 2018)
Oleh Mochtar Marhum
Trauma healing adalah tindakan medis yang sangat baik dan paling tepat diterapkan pasca bencana dasyat.
Namun, memberikan pemahaman kepada masyarakat terdampak bencana tentang perspektif Teologi dan fenomena Geologi dengan bahasa yang jelas dan lugas jauh lebih penting.
Mungkin tidak ada gunanya upaya trauma healing tanpa memberikan pemahaman yang inspiratif kepada masyarakat terdampak tentang penyebab terjadinya Gempa, Tsunami dan Fenomena Liquefaksi di wilayah terdampak bencana Palu, Sigi dan Donggala (PASIGALA).
Pencerahan atau pemahaman yang diberikan haruslah dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam dan lebih baik lagi kalau menggunakan media gambar atau video animasi.
Diseminanasi, sosialisasi dan pencerahan kepada masyarakat haruslah mencakup perspektif Teologi (Agama) dan juga dari konteks Geologi (Sains) atau ilmu pengetahuan.
Serta penting juga mengkalrifikasi kisah Mitologi yang selama ini telah melegenda dan sangat dipercaya masyarakat awam pada umumnya.
Akibat trauma yang ditimbulkan oleh bencana dasyat, nampaknya masih banyak masyarakat yang belum berani tidur dalam kamar di rumah mereka masing-masing karena mungkin takut terjebak apalagi mereka yang memiliki hunian rumah yang bertingkat.
Masih banyak masyarakat yang belum memahami fenomena Geologi dan siklus gempa. Mungkin masih banyak yang mengira bahwa gempa sedasyat tanggal 28 September 2018 akan terulang dalam waktu dekat karena masih kurang sosialisasi dan diseminasi tentang pemahaman fenomena alam dan siklus gempa yang terjadi.
Saat ini lebih banyak upaya tindakan trauma healing dari pada memberikan pemahaman sederhana tentang bencana gempa, tsunami dan liquefaksi.
Akibat trauma yang berkepanjangan, masih banyak masyarakat terdampak yang tidur di ruang tamu dan garasi mobil mereka.
Sebelumnya sehari pasca gempa, banyak yang sempat mengungsi di lapangan terbuka atau di jalan-jalan depan rumah mereka dan tidur dengan beralas tikar dan tenda darurat seadanya.
Akibat terjadinya bencana dasyat, mungkin luka fisik bisa sembuh dalam waktu yang relatif singkat sejauh seseorang bukan penderita diabetes melitus (DB).
Namun, tentu lain pula halnya dengan trauma atau Luka physihis yang disebabkan pernah merasakan dan menyaksikan langsung dasyatnya gempa di wilayah terdampak. Pasti luka trauma itu tidak akan bisa sembuh dalam waktu singkat oleh sebab itu diperlukan tindakan trauma healing atau suatu proses penyembuhan akibat trauma.
Akibat trauma sehingga rentan timbul penyakit semacam perasaan halusinasi sehingga walaupun hanya kucing berkejaran di atas atap atau pelafon rumah atau liwat sejumlah mobil truk yg memuat bantuan pengungsi serta mungkin ada motor berkenalpot Bogart liwat didepan rumah, mereka mungkin kira gempa lagi terjadi.
Selama ini kebijakan yang diterapkan pasca gempa di daerah terdampak lebih didominasi dengan tindakan medis berupa trauma healing dan paling banyak pasiennya anak-anak di bawa umur yang rentan mengalami trauma.
Mungkin upaya sosialisasi dan diseminasi penyebab terjadinya bencana alam dengan bahasa yang sangat sederhana, lugas dan mudah dipahami masyarakat masih minim.
Tidak ada gunanya program trauma healing kalau masih banyak masyarakat yang belum mendapat pencerahan dan pemahaman yang jelas tentang penyebab terjadinya gempa dan dan dampak atau akibat yang ditimbulkannya.
Kearifan lokal, local knowledge and local wisdom juga sangat dibutuhkan karena masyarakat lokal sejak dulu telah diceritakan dan diajarkan oleh leluhur mereka tentang kisah gempa dan bencana alam yang pernah terjadi dan bagaimana menghindarinya seperti yang pernah dialami masyarakat di Pulau Nias Sumatra dulu ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh dan dengan bekal kearifan lokal banyak masyarakat yang selamat.
Ironisnya di masyarakat modern yang telah dilengakapi dengah teknologi canggih justru banyak korban ketika terjadi gempa dan tsunami.
Mungkin early warning system tidak berfungsi dan perangkat pelampung bouy telah dicuri orang usil yang belum memahami mamfaat dari alat canggih tersebut.
Akhirnya harus pula disadari bahwa kehendak Allah lebih canggih dari pada teknologi dan ilmu geologi.
Fenomena Alam yang terjadi setiap saat haruslah dipahami oleh setiap masyarakat Indonesia dan apalagi Indonesia berada di jalur cincin api (Ring of Fire) yang setiap saat rentan terjadi Gempa.
Penulis: Kolumnis Free-lance dan Akademisi UNTAD

Rabu, 10 Oktober 2018

TRAGEDI GEMPA DAN TSUNAMI MENGHANTAM KOTA PALU DAN WILAYAH SEKITARNYA


(Palu, 1 Oktober 2018)
Oleh Mochtar Marhum
Alhamdulillah kami sekeluarga selamat dari bencana Gempa dan Tsunami yg Maha Dasyat Menghantam Kota Palu dan Wilayah Sekitarnya.
Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun, turut berduka cita dan menghaturkan belasungkawa yang dalam atas wafatnya warga kota Palu dan wilayah sekitarnya akibat musibah bencana Gempa dan Tsunami yang super dasyat.
Kisah sedih di hari itu, Jumat tanggal 28 September 2018 pukul 18:02 WIT. Hari yang tidak akan pernah terlupakan oleh masyarakat kota Palu dan daerah sekitarnya yang terdampak Gempa dan Tsunami.
Bencana alam yang super dasyat tersebut disusul Tsunami dengan ketinggian gelombang air laut sekitar 10 Meter hingga 15 Meter menyapu bersih wilayah pesisir pantai kota Palu dan sekitarnya.
Menurut laporan awal BMKG yang beredar viral di media sosial Gempa Magnitude 7,7 Skala Richter yang kemudian diralat jadi 7,4 Skala Richter Lokasi Gempa berada sekitar 0.18 Lintang Selatan (LS), 119.85 Bujur Timur, 27 km arah Timur Laut DONGGALA-SULAWESI TENGAH, Kedalaman: 10 Km, Gempa Tektoknik itu telah menimbulkan TSUNAMI yang sangat dasyat dan berdampak fatal pada wilayah sekitar Pantai Barat.
Saat itu bertepatan dengan suara Azan Di Masjid tiba-tiba gemuruh dan getaran yang sangat dasyat mengguncang Bumi Tadulako Palu dan wilayah sekitarnya termasuk Kabupaten Donggala dan Kabupaten Sigi.
Masyarakat berhamburan keluar rumah berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing seiring terdengar teriakan jargon religi keluar dari mulut masing-masing.
Dan tiba-tiba lampu padam total dan semua jaringan koneksi telpon terputus sehingga komunikasi liwat jaringan internet otomatis terputus sehingga komunikasi dengan dunia luar lumpuh total.
Pasca getaran yang sangat dasyat itu, masyarakat mengungsi ke tanah lapang yang aman jauh dari ancaman reruntuhan puing-puing bangunan dan pepohonan yang berpotensi menimpa kepala anggota tubuh.
Bencana Alam yang maha dasyat itu menimbulkan ribuan korban jiwa dan juga diperkirakan mengakibatkan kerugian materi miliaran rupiah. Getaran yang maha dasyat itu menghantam seluruh wilayah kota Palu dan sekitarnya.
Dua lokasi Gempa yang mengalami dampak serius yang sangat mematikan dan merusak terjadi di daerah sekitar Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan dan Kompleks Perumnas Kelurahan Balaroa Kecanatan Palu Barat.
Menurut saksi mata di kedua wilayah yang terdampak serius saat terjadinya Gempa, rumah terguncang dan terasa tanah turun dan menggulung bangunan rumah penduduk disekitar lokasi gempa. Sebagian bangunan masuk kedalam dan kemudian terhimpit tanah dan sebagian naik ke atas dan lokasi itu menjadi bukit-bukit dan gundukan tanah yang bergelombang. Disaat bersama terdengar suara minta tolong dan suara takbir serta suara-suara jargon religi dan pada saat bersama hari mulai gelap.
Pemandangan yang sangat unik dan memilukan menurut ketua PMI Kabupaten Sigi, ada satu desa di kecamatan Marawola yang tanahnya bergerak berpindah sekitar 1 Km dari lokasi semula
Laporan terkahir dari sejumlah media mainstream kemarin malam korban jiwa terdaftar ada sekitar 900 jiwa lebih dan diperkirakan laporan korban jiwa akan terus meningkat dan mungkin akan mencapai angka ribuan karena masih ada beberapa lokasi terdampak serius yang belum sempat dilakukan proses evakuasi akibat keterbatasan peralatan dan sumber daya petugas dan relawan bencana.
Hari pertama pasca gempa, pemandangan yang sangat memilukan dan menyedihkan terlihat di lokasi yang terdampak Gempa dan Tsunami. Sejumlah mayat dan bangkai kendaraan serta rongsokkan puing-puing material bangunan terlihat jelas terbujur di sekitar wilayah pantai.
Keluarga korban dan sejumlah relawan terlihat bekerja ekstra memungut satu persatu jenazah korban gempa di daerah sekitar wilayah terdampak. Kemudian satu persatu jenazah korban gempa diangkat dari sekitar tumpukkan puing-puing bangunan dan rongsokkan sampah dan kemudian untuk sementata diletakkan terbujur kaku disepanjai Pantai Talise Kota Palu sambil menunggu petugas tim evakuasi. Kebanyak anggota tubuh korban gempa kelihatan bengkak-bengkak dan bahkan ada yang sulit dikenali identitasnya.
Pada hari Jumat tanggal 28 Sepember 2018 sebelum terjadinya gempa terlihat masyarakat berkumpul di sekitar wilayah pantai Talise Kota Palu dan kebetulan malam itu merupakan jadwal pembukaan Festival Budaya Tahunan Kota Palu.
Ada banyak penonton yang mulai berdatangan terlihat pula panitia dan peserta festival mulai hadir di lokasi festival. Beberapa pejabat pemerintahan daerah, petugas keamanan dan sejumlah pedagang jajanan hadir di lokasi sekitar festival. Sesaat kemudian terjadi gempa maha dasyat, semua pada panik dan berhamburan berusaha menyelamatkan diri.
Beberapa saat kemudian sejumlah orang yang berada di sekitar pantai melihat dari kejauhan ombak besar menggunung menuju arah pantai Sekita itu masyarakat berhamburan menyelamatkan diri masing-masing tapi ada juga yang bernasib malang dan belum sempat menyelamatkan diri ketika ombak Tsunami menerjang bibir pantai dan menyapu bersih semua yang berada di lokasi tersebut.
Pasca gempa terlihat bangunan rumah, perkantoran dan hotel-hotel yang rusak berat. Hotel Roa Roa yang terletak di Kelurahan Maesa dan memiliki 9 lantai dan ratusan kamar, bangunannya runtuh total tak ada satupun bangunannya yang utuh.
Hotel itu dibangun 4 tahun lalu Di hotel itu lagi menginap sekitar 70 orang Atlit Paralayang dari luar kota Palu dan juga bahkan ada tamu dari luar negeri Diperkirakan ada sekitar lebih saratus orang yang terjebak dalam reruntuhan bangunan hotel tersebut dan belum sempat dievakuasi sampai hari pertama pasca gempa. Saksi mata menuturkan bahwa terdengar suara jeritan minta tolong dari reruntuhan bangunan.
Hotel The Syah yang terletak di Jl. Sisinga Mangaraja dan beru diresmikan tahun lalu dan tercatat salah satu hotel paling laris di Kota Palu juga mengalami kerusakan yang sangat serius. Banyak puing-puing reruntuhan dari bangunan hotel tersebut. Hotel tersebut nyaris runtuh. Diperkirakan banyak tamu hotel yang terjebak di dalamnya dan diperkirakan terdapat korban jiwa dan luka-luka parah.
Hotel Mercure yang terletak di tepi pantai menghadap arah utara juga mengalami kerusakan berat. Terlihat puing-puing menumpuk di depan dan di dalam hotel. Beberapa bangkai kendaraan roda empat bersusun dan menumpuk di depan tembok hotel yang paling mewah dan megah di kota Palu. Hotel yang indah dan juga paling laris dan favorit tersebut juga belum lama diresmikan.
Jembatan Kuning Palu Empat yang terletak dan terletak di muara sungai kota Palu yang menghubungkan wilayah Palu Barat dan Palu Timur dan telah menjadi landmark dan icon Kota Palu runtuh dan terputus akibat gempa dan Tsunami.
Pemandangan anomaly terlihat di mana-mana, ketika malam tiba, kota Palu mirip kota yang mati karena gelap gulita akibat listrik padam. Di siang hari terlihat warga antri mengular dab antrian terlihat sepanjang sekitar 500 M sampai 1 KM di sejumlah SPBU. Akibat listrik padam, proses pengambilan BBM dilakukan secara manual dengan cara menimbah BBM secara perlahan dari tangki SPBU sehingga prosesnya makin lama dan antrian semakin panjang.
Masaalah serius kedepan yang sangat memprihatinkan dan menjadi beban pikiran warga kota Palu di pengungsian saat ini yaitu ancaman beberapa hari ke depan berupa kelangkaan air bersih, kelangkaan pasokan makanan dan minuman serta obat-obatan.
Juga sempat beredar kabar rumor yang viral dari mulut ke mulut bahwa telah terjadi aksi penjarahan (looting) di sejumlah toko dan pusat perdagangan sehingga diragukan akan terjadi kelangkaan bahan pangan ke depan. Bantuan dari luar juga disinyalir telah dijarah di perbatasan akses masuk ke wilayah terdampak.
Banyak Napi diberitakan lari dari rumah tahanan Donggala bahkan kabarnya ada Napi yang membakar rumah tahanan dan melarikan diri bersama teman-temannya.
Sampai saat ini antrian panjang terlihat di bandara karena bnyak pengungsi yang ingin eksodus ke luar kota Palu.
Kisah mengharukan terdi ketika pesawat Batik Air akan take off meninggalkan Bandara Mutiara Sis Aljufrie Palu. Beredar viral berita yang dan kisah yang menyedihkan. Petugas menara sempat memandu peberbangan dari Tower Bandara jadi korban akibat gempa saat sedang terhubung dengan Pilot dan tiba-tiba sambungan komunikasi terputus dan diduga petugas pemandu pesawa di Menara menjadi korban kedsyatan Gempa.
Dan ketika pesawat berada di udara, Pilot sempat mengambil dokumentasi kejadian Tsunami dengan gambar yang sangat mengerikan. Gelombang Tsunami terlihat menuju ke pantai di sekitar pesisir kota Palu dan Donggala.
Hari demi hari pebderitaan masyarakat korban Gempa dan Tsunami semakin menderita akibat makin lama semakin berkurang sembako termasuk air bersih dan obat-obatan. Sejumlah masyarakat meragukan pasokan bantuan kebutuhan pokok.
Semoga kebijakan mitigasi bencana bisa diterapkan kebih efektif sehingga korban-korban berjatuhan akibat kekurangan pasokan pangan dan obat-obatan bisa diatasi. Dan semoga Allah melindungi umatnya yang lagi menderita akibat bencana alam. Kepekaan sosial dan tanggap bencana diharapkan bisa membantu meminalisir beban penderitaan masyarakat yang terdampak bencana.
Sampai detik ini warga kota Palu masih mengungsi di luar rumah dan trauma masuk ke dalam rumah walaupun hanya sesaat. Hampir semua warga kota Palu mendirikan tenda di pinggir-pingir jalan dan di depan rumah. Dan banyak pula terlihat titik lokasi terlihat dibeberapa sudut kota Palu. Semua aktivitas masyarakat saat ini terpaksa dilakukan di luar rumah.
Di tengah rasa piluh, kesedihan dan penderitaan, terlihat keakraban dan kohesi sosial sesama masyarakat di daerah terdampak Gempa dan Tsunami. Warga masyarakat semakin dekat dan lengket. Sekat-sekat perbedaan suku, agama dan bahkan status sosial hampir tidak keliahatan.
Sama-sama mendirikan tenda dan beralas tikar dan kemudian bahkan ada yang masak bersama dan menikmati hidangan makan bersama.
Di tengah penderitaan akibat Gempa tidak disadari telah tercipta keharmonisan dan kerukunan masyarakat mungkin diakibatkan saat ini semua mengalami musibah dan penderitaan yang sama. Namun, tatapan keprihatinan dan pesimisme akan nasib beberapa hari ke depan masih merupakan misteri dan kegalauan bersama.
Semoga Allah akan melindungi nasib semua umatnya dan juga semoga akan selalu ada bantuan yang bisa menyelamatkan nasib warga di daerah terdampak bencana pasca Gempa dan Tsunami yang menghantam Kota Palu dan Wilayah Sekitarnya.
PENULIS: Kolumnis Free-lance Warga Kota Palu dan Akademisi UNTAD

EARTHQUAKE AND TSUNAMI DEVASTATED PALU CITY AND THE NEIGHBOURING AREAS


Palu, 2 October 2018
By Mochtar Marhum
It was 18:02 PM of Central Indonesia Time. A deadly Earthquake and Tsunami devastated Palu, the Capital City of Central Sulawesi which killed and injured thousands people.
According to the official report of Government Body in Charge of Natural Disaster, the Earthquake measured 7.4 Richter Scale that trigerred Tsunami of 10 to 15 Meter Above the Sea Level and swept all buildings and the living environment in the sorrounding Coastal Areas.
Two Housing Compounds situated in the Suburb of Petobo and Balaroa were seriously devasted. It was speculated that the deadly natural disasters have killed nearly one thousand Residents living in those two suburbs.
The Tragedy of Earthquake and Tsunami occured coinsided with the opening Cerimony of Annual Cultural Show Festival of Pesona Palu Nomony which took place in Talise Beach, One of The most favourite Tourist Destination and Amusement Centre.
At the moment lots of people wanted to watch the festival. It was reported that those who were at the venue of cultural festival found dead. They were including spectators, members of steering comitee, artists and performers, the local goverment authorities, security and street vendors.
Dead bodies, vichles, ruins of buildings and garbages were clearly seen in the natural disaster scenes. Families and Evacuating team members have been evacuating dead bodies from building ruins and the sorrounding scenes.
Many Buildings of Hotels, Offices, people houses, schools, campuses and bussines districrits were seriuosly devasted. Some were totally collapsed and killed many people.
In several areas, many local people queed up to get their basic needs. Many drivers and riders lined up in the Gasoline Statation to get petrols.
post the earthquake and tsunami, people get suffered since the electrical power was cut. So the city of Palu is totally dark in the evening because of blackout. Access to Clean water is getting hard and the amount of clean water is gradually scarced.
In the Airport of Mutiara Sis Aljufri Palu many refugees were try to go exodus out of Palu City. Chaotic situation was seen.
In the bordering areas, the main roads access to Palu, some basic needs assistance were looted by refugees. Looting cases are also rampant in the affected areas.
It was reported that a jail was broken by prisoners. Then, many prisoners ran away from prisons. Some prisoners were reported arsoned the jaile and escaped together with their jailmates.
Nowdays, all local refugees are looking forward to waiting for basic need aides from governments and overseas funding bodies. Yet, it was recently reported that some foreign aids assistace were banned temporarily.
WRITER: A Freelance Columnist and Academic of Tadulako University, Palu Central Sulawesi.